Selasa, 19 Agustus 2014

Satu tahun setelah itu..

Hei, apa kabar kamu? Aku sudah lama tak lagi sibuk mencari mu, ataupun diam-diam mencuri kabarmu melalui akun sosial media. Beberapa lama ini aku sengaja tak memusingkan semua tentangmu, berusaha tak lagi canggung akan kehadiranmu,dan tak ingin tahu bagaimana kamu menghabiskan sisa umurmu dengan pacar barumu. Tapi, ya seperti biasa kamu selalu berlabuh pada hati yang tentu saja bukan aku sebagai dermaga pilihanmu.
Sudah banyak tulisanku tentang mu, dan tulisan sederhana ini sebenarnya hanya akan menambah luka baru buatku, rasa-rasa pahit yang entah mengapa telah bisa membuatku tersenyum setiapku mengingatmu; mengingat kita. Tulisan ini aku buat diantara rasa lelahku ketika harus berjibaku dengan pekerjaanku dan juga tugas kuliahku yang ku ketik ketika mataku sudah mulai terkantuk dan harusnya aku sudah meringkuk diatas kasurku. Tapi demi mu, aku rela melakukan apapun, meskipun tanpa sepengetahuanmu.
Mungkin tulisan ini tak akan kamu baca, tapi izinkan mantan kekasihmu ini kembali mengingat dirimu yang pernah begitu sempurna dimatanya. Beri aku sedikit ruang untuk bernafas setelah setahun lalu dibuat sesak dengan kepergianmu. Malam ini hanya bunyi laptop-ku dan ketikan jemari di keyboard-ku lah yang menemaniku untuk mengingat kenangan-kenangan kita .
Kamu ingin tahu kabarku? Sampai saat ini, aku masih merindukanmu. Dan rasa ini hanya terobati hanya dengan melihat isi Timeline Twitter –mu, rasa rindu ini hanya terobati dengan melihat percakapan kita satu tahun lalu; saat kamu sedang disibukkan dengan Ujian Nasional SMA mu dan aku disibukkan dengan Tugas Kuliah Semester 4 ku. Ketika muncul pertanyaan kenapa sosok mu yang selalu hadir disetiap tulisanku. Dengan senyum miris, dengan mata berair, dan dengan kata-kata yang tersirat bahwa sosok itu adalah kamu. Entah dengan kekuatan magis apa kamu mampu membuatku terluka parah seperti ini.
Saat semua masih terasa begitu manis, saat pesan singkatmu, bbm-mu, dan sapaan ringan mu menjadi obat penenang sebelum aku terlelap. Rasanya waktu begitu cepat, satu tahun yang lalu rasanya kita baru berkenalan, tapi sekarang kenapa kita berjauhan? Ah, andai aku punya mesin waktu, aku tak mau gubris semua percakapan kita, kalau tahu akan sesakit ini; aku tak mau terima kamu memasuki hatiku dengan begitu sempurna.
Aku tahu, kamu pernah memiliki yang baru kemudian melupakanku, dan sekarang kamu dan dia telah mengakhiri hubungan kalian. Selama rentan waktu itu tololnya aku masih mencintai kamu. Karna aku masih tak punya daya melupakanmu. Kamu masih mampir di otakku dengan berbagai rupa dan bentuk, dengan berbagai gaya. Aku tak bisa lupa mata itu, mata yang pertama kali bersinar sambil menatap mataku. Mata yang menarikku kedalam jurang sedalam ini, mata yang seharusnya setahun lalu aku abaikan.
Aku ingin tahu cara mengabaikanmu, melupakanmu, meniadakan bayanganmu. Seandainya aku punya mesin waktu,aku ingin mewujudkan semua keinginan itu. Mengulang segala peristiwa saat kita. Walaupun saat ini aku tahu kalau kamu sudah mulai menjalani lagi hubungan dengan orang yang kau pilih dan aku sangat tahu kalau kamu menyayanginya, air mata bahagia ku selalu mengiringi hubungan kalian walau kau tak perlu mengetahui itu.
Tak banyak yang tahu aku masih sangat menyayangimu hingga saat ini. Tak banyak yang tahu bahwa air mataku masih terjatuh untukmu, yang mereka tahu aku hanyalah persinggahanmu, yang menjadi penghiburmu. Padahal, mereka tak tahu betapa kita pernah berjalan begitu jauh dan pernah memimpikan jika perasaan ini berakhir dalam penyatuan. Tak banyak yang tahu, sayang, dan sampai saat ini mereka hanya bisa menertawakan kisah kita, kisah yang tak selesai. Jika memang aku tak serius, mengapa aku masih ingin memperjuangkanmu sampai saat ini? Jika memang aku hanya main main, mengapa air mataku masih saja menetes ketika bercerita tentangmu pada teman-teman kita? Mengapa? Kamu meringis dan tak bisa menjawab.
Andai aku punya mesin waktu, sebenarnya yang ingin aku ulang adalah masa-masa perkenalan kita, masa-masa saat aku dan kamu masih baik-baik saja.
Andai aku punya mesin waktu, aku ingin mengubah sikap burukku yang mungkin menyebabkan kamu pergi secepat ini.
Andai aku punya mesin waktu, aku ingin ……. Kamu kembali.

Dari pengagummu

Yang tidak tahu diri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar