Hei, apa kabar kamu? Aku sudah
lama tak lagi sibuk mencari mu, ataupun diam-diam mencuri kabarmu melalui akun
sosial media. Beberapa lama ini aku sengaja tak memusingkan semua tentangmu,
berusaha tak lagi canggung akan kehadiranmu,dan tak ingin tahu bagaimana kamu
menghabiskan sisa umurmu dengan pacar barumu. Tapi, ya seperti biasa kamu
selalu berlabuh pada hati yang tentu saja bukan aku sebagai dermaga pilihanmu.
Sudah banyak tulisanku tentang
mu, dan tulisan sederhana ini sebenarnya hanya akan menambah luka baru buatku,
rasa-rasa pahit yang entah mengapa telah bisa membuatku tersenyum setiapku
mengingatmu; mengingat kita. Tulisan ini aku buat diantara rasa lelahku ketika
harus berjibaku dengan pekerjaanku dan juga tugas kuliahku yang ku ketik ketika
mataku sudah mulai terkantuk dan harusnya aku sudah meringkuk diatas kasurku. Tapi
demi mu, aku rela melakukan apapun, meskipun tanpa sepengetahuanmu.
Mungkin tulisan ini tak akan kamu
baca, tapi izinkan mantan kekasihmu ini kembali mengingat dirimu yang pernah
begitu sempurna dimatanya. Beri aku sedikit ruang untuk bernafas setelah
setahun lalu dibuat sesak dengan kepergianmu. Malam ini hanya bunyi laptop-ku
dan ketikan jemari di keyboard-ku lah yang menemaniku untuk mengingat
kenangan-kenangan kita .
Kamu ingin tahu kabarku? Sampai saat
ini, aku masih merindukanmu. Dan rasa ini hanya terobati hanya dengan melihat
isi Timeline Twitter –mu, rasa rindu ini hanya terobati dengan melihat
percakapan kita satu tahun lalu; saat kamu sedang disibukkan dengan Ujian
Nasional SMA mu dan aku disibukkan dengan Tugas Kuliah Semester 4 ku. Ketika muncul
pertanyaan kenapa sosok mu yang selalu hadir disetiap tulisanku. Dengan senyum
miris, dengan mata berair, dan dengan kata-kata yang tersirat bahwa sosok itu
adalah kamu. Entah dengan kekuatan magis apa kamu mampu membuatku terluka parah
seperti ini.
Saat semua masih terasa begitu
manis, saat pesan singkatmu, bbm-mu, dan sapaan ringan mu menjadi obat penenang
sebelum aku terlelap. Rasanya waktu begitu cepat, satu tahun yang lalu rasanya
kita baru berkenalan, tapi sekarang kenapa kita berjauhan? Ah, andai aku punya
mesin waktu, aku tak mau gubris semua percakapan kita, kalau tahu akan sesakit
ini; aku tak mau terima kamu memasuki hatiku dengan begitu sempurna.
Aku tahu, kamu pernah memiliki
yang baru kemudian melupakanku, dan sekarang kamu dan dia telah mengakhiri
hubungan kalian. Selama rentan waktu itu tololnya aku masih mencintai kamu. Karna
aku masih tak punya daya melupakanmu. Kamu masih mampir di otakku dengan
berbagai rupa dan bentuk, dengan berbagai gaya. Aku tak bisa lupa mata itu,
mata yang pertama kali bersinar sambil menatap mataku. Mata yang menarikku
kedalam jurang sedalam ini, mata yang seharusnya setahun lalu aku abaikan.
Aku ingin tahu cara
mengabaikanmu, melupakanmu, meniadakan bayanganmu. Seandainya aku punya mesin
waktu,aku ingin mewujudkan semua keinginan itu. Mengulang segala peristiwa saat
kita. Walaupun saat ini aku tahu kalau kamu sudah mulai menjalani lagi hubungan
dengan orang yang kau pilih dan aku sangat tahu kalau kamu menyayanginya, air
mata bahagia ku selalu mengiringi hubungan kalian walau kau tak perlu mengetahui
itu.
Tak banyak yang tahu aku masih
sangat menyayangimu hingga saat ini. Tak banyak yang tahu bahwa air mataku
masih terjatuh untukmu, yang mereka tahu aku hanyalah persinggahanmu, yang
menjadi penghiburmu. Padahal, mereka tak tahu betapa kita pernah berjalan begitu
jauh dan pernah memimpikan jika perasaan ini berakhir dalam penyatuan. Tak banyak
yang tahu, sayang, dan sampai saat ini mereka hanya bisa menertawakan kisah
kita, kisah yang tak selesai. Jika memang aku tak serius, mengapa aku masih
ingin memperjuangkanmu sampai saat ini? Jika memang aku hanya main main,
mengapa air mataku masih saja menetes ketika bercerita tentangmu pada
teman-teman kita? Mengapa? Kamu meringis dan tak bisa menjawab.
Andai aku punya mesin waktu,
sebenarnya yang ingin aku ulang adalah masa-masa perkenalan kita, masa-masa
saat aku dan kamu masih baik-baik saja.
Andai aku punya mesin waktu, aku
ingin mengubah sikap burukku yang mungkin menyebabkan kamu pergi secepat ini.
Andai aku punya mesin waktu, aku
ingin ……. Kamu kembali.
Dari
pengagummu
Yang
tidak tahu diri